Senin, 10 Mei 2010

LEGENDA SEPAK BOLA


SILVIO PIOLA

LEGENDA YANG TAK HANYA PAMER KEKUATAN FISIK, TAPI JUGA KEINDAHAN SEPAK BOLA


Sedari awal sepak bola Italia sudah dicap terlalu defensif dan miskin keindahan. Tapi anggapan itu pernah "ditampar" oleh seorang pemain berpostur tinggi kekar bernama Silvio Piola. Dia menyadarkan dunia bahwa negeri Pizza itu juga punya sepak bola indah yang ada dalam dirinya.

Sama seperti Cesar Luis Menotti saat melakukan keralahan tak memanggil Maradona di Piala Dunia 1978, pelatih timnas Italia, Vittorio Pozzo melakukan hal yang sama. Pada Piala Dunia 1934 dia tak memanggil Piola yang sebenarnya waktu itu sudah menjanjikan. Alasannya, Gli Azzuri sudah memiliki striker hebat Giuseppe Meazza. Pozzo beruntung, seperti halnya Menotti, Italia akhirnya juara dunia di 1934. Jika tidak, tekanan publik terhadapnya akan semakin besas karena tidak membawa Piola.

Usai Piala Dunia 1934 digelar, kemampuan Piola semakin berkembang pesat. Permainannya di serie A Italia semakin menyita perhatian. Dia bahkan hampir memamerkan gol di setiap pertandingan. Tak hanya itu, permainannya sangat indah dan sulit dihentikan lawan. Baginya, peluang sekecil apapun bisa diubahnya menjadi gol. Itu tak lain karena Piola termasuk pemain yang lengkap. Dia punya kecepatan lari diatas rata-rata, sundulan yang akurat, refleks cepat, dan kedua kakinya juga hidup. Hebatnya lagi dia juga bisa mencetak gol dalam posisi bagaimana pun. Tak jarang dia mencetak gol dengan cara melakukan bicycle kick, salto, atau memutar tubuhnya.

Kemampuan yang membuat Pozzo makin terpikat olehnya. Saat menghadapi Piala Dunia 1938, Giuseppe Meazza sudah makin tua. Sementara Piola makin membahana. Pada 1937 dia malah menjadi top skorer Serie A dengan 21 gol.

Di piala dunia 1938 Italia tak terlalu diunggulkan meski berstatus juara bertahan. Tuan Rumah Prancis, Hungaria, dan Brasil lebih diunggulkan. Tampil di negeri orang di mana pengaruh kekuasaan diktator Benito Mussolini sudah menghilang, kemampuan Gli Azzuri diragukan. Piola sekali lagi menampar prediksi itu. Dia tampil luar biasa sepanjang turnamen. Baikan di babak kedua lawan Prancis, dia mencetak dua gol hingga Italia menang 3-1 dan lolos ke putaran kedua. Usai pertandingan, dia dipuji banyak orang dan oleh media massa setempat, dia dijuluki Borreau des Francais (Pembunuh Prancis). Sebab, berkat dua golnya, Prancis yang sebelumnya lebih diunggulkan akhirnya tersingkir.

Di babak final, kembali Italia dinilai bakal tumbang karena menghadapi tim terkuat, Hungaria. Lagi-lagi Piola yang menumbangkan prediksi ini. Dia bermain kesetanan dan selalu menjadi teror buat pertahanan Hungaria. Dua gol yang dicetaknya cukup membawa Italia menang 4-2, sekaligus mempertahankan gelar juara dunia." Kami dikalahkan oleh tiga orang hebat: Meazza, Ferrari, dan Piola. Mereka penyerang berbahaya, terutama Piola," puji striker Hungaria, Pal Titkos." Piola memiliki kekuatan fisik dan teknik yang tinggi. Dia striker yang tak kenal takut. Larinya membuat defender lawan sulit mengejar. Dan, tendangannya begitu keras."

DITEMUKAN PENDETA

Lahir di Desa Robbio Lomellina, Piola memang sudah akrab dengan sepak bola sejak kecil. Kotanya, Pavia, memang tak memiliki sejarah besar dalam sepak bola Italia. Tapi, tradisi sepak bola di daerah itu begitu kental. Itu pula sebabnya Piola lebih suka menghabiskan waktunya bermain sepak bola. Dia sering menolak membantu orang tuanya yang berdagang pakaian, demi memuaskan hobi bermain sepak bola.

Usaha yang tidak sia-sia. Kemampuan olah bolanya semakin berkembang. Bahkan Piola sudah menjadi idola anak-anak di daerahnya. Sebab, dia pemain paling pandai. Melihat aksinya, orang-orang akan terhibur. Liar, tapi artistik. Dia seolah melukiskan imajinasinya lewat gerakan dalam sepak bola. Ketenaran yang tadinya hanya sebatas radius meteran, akhirnya didengar pula oleh pembesar klub Pro Vicelli, Don Sassi yang juga seorang pendeta. Dia tertarik pada pemain bertinggi 178 cm dan berat 77 kg itu. Meski Piola baru berumur 16 tahun, Don Sassi tanpa ragu merekrutnya ke Pro Vercelli.

Setahun kemudian, tepatnya 16 Februari 1930, dia sudah diberi kesempatan melakukan debut lawan Bologna. Penampilannya terus memukau dan dia menjadi straiker yang langkam. Dalam semusim, dia mencetak 13 gol. Jumlah yang cukup besar buat seorang debutan. Dalam 127 penampilan bersama Pro Vercelli, dia menyumbangkan 51 gol. Itu pula sebabnya Lazio tertarik dan membelinya pada 1934. Tak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Bahkan, Piola segera menjadi pahlawan di klub Kota Roma tersebut. Setiap aksinya selalu menyedot puluhan ribu penonton.

Bersama Lazio pula penampilannya semakin matang. Produktivitasnya terus meningkat. Rata-rata setiap pertandingan dia mencetak 0,62 gol. Dari 227 penampilannya bersama Lazio selama sembilan tahun, dia mencetak 143 gol. Meski tak pernah menghadirkan gelar buat Lazio, tapi permainannya sudah cukup membanggakan klub tersebut. Dia dianggap pahlawan yang selalu memberi makna di setiap pertandingan Lazio. Karena dia pula Lazio memiliki harga diri di era 1930-an. Tak lagi diremehkan klub lain, terutama rival satu kotanya, AS Roma.

Lazio, juga seluruh rakyat Italia, bangga pernah memiliki seorang pemain bernama Silvio Piola. Straiker yang tak hanya tangguh, cepat, dan kuat, tapi juga bermain penuh keindahan dan ketajaman. Seniman perkasa yang tahu memanfaatkan keindahan, sekaligus kekuatan dan kecepatannya.

KELEBIHAN SILVIO PIOLA

Piola memang lain dari pemain Italia lainnya. Dia tak lugu, kaku, atau tewtbook, tapi kreatif dan artistik. Masih banyak lagi kelebihan darinya. Berikut diantaranya.

Bicycle kick : di italia pada 1930-an, bicycle kick menjadi trade mark Piola. Dia beberapa kali mencoba mencetak gol dengan cara ini, bahkan sering juga berhasil.
Tendangan : tendangannya tah hanya terarah, tapi juga sangat kuat. Dalam latihan, sering rekan-rekannya menghindari bola dari tendangannya, karena takut sakit.
Gocekan : ini membuat permainannya semakin tampak indah. Dia tak ubahnya pemain Brasil yang punya seribu cara, trik, dan muslihat untuk membawa bola dan mengelabuhi lawan.
Sundulan : porturnya cukup tinggi, 178 cm. Dia mampu mengoptimalkan kekuatan fisik untuk melompat tinggi. Karena itu dia sering menang dalam adu udara.
Kecepatan lari : Piola sering digambarkan seperti sprinter. Meski tak ada catatan kecepatannya, tapi dia selalu menang dalam adu lari.
Tendangan menyamping: Piola juga suka menendang sambil menjatuhkan diri dalam posisi miring. Tendangannya begitu keras dan terarah, hingga kerap berbuah gol.

FAKTA PIOLA

Nama lengkap : Silvio Piola.
Julukan : Borreau des Francais (pembunuh Prancis)
Lahir : 29 September 1913, Robbio Lomellina (Italia)
Posisi : Straiker
Nomor kostum : 9
Karier klub :
Pro Vercelli (1929-1934),
Lazio (1934-1943),
Torino (1943-1944),
Juventus (1945-1947),
Novara (1947-1954).

Karier timnas : Italia (1935-1952)
Prestasi : juara Piala Dunia 1938, pemain terbaik Piala Dunia 1938, top skorer Liga Serie-A (1937,1943).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

halaman